Yusuf & Zulaikha
Entah dendam apa yang membuatnya seperti itu kepada wanitanya. Seharusnya kejadian beribu tahun yang lalu tak perlu diungkit-ungkit sebagai alasan untuk menuntut balas. Ranting pohon bergoyang, rerumputan berdendang, bendera besar merah putih hitam dengan dua bintang hijau di atas tiang tengah kota itu pun berkibar, tanda angin tak sedang sepi. Berbeda dengan gadis itu. Dia duduk terbengong, tatapan matanya kosong menampakan suasana hatinya yang lagi sepi. “ min halla wa royih sirtii lahalik, ana maa bikun ma’ik wa laa bsyufik , dari sekarang dan selanjutnya, kamu akan sendirian, aku tak akan bersamamu lagi dan tak akan melihatmu lagi". Kata-kata itu masih terngiang jelas. Orang yang melontarkan kata-kata itu pun masih tergambar dalam ingatannya tanpa samar. Ya, Yusuf lelaki idamannya. Lelaki yang selalu ia temui di pertigaan Syamdeen square saat pergi hendak kuliah. Lelaki yang bisa memberikan kesan indah saat pandangan pertama. Lelaki yang bisa mengusik hatinya d...