Tentang Cinta & Kadar Kecewa
Lama sekali rasanya saya tidak ngeblog, maklumlah,
saya bukan penulis handal (lagian siapa yang bilang saya penulis handal). Saya juga
bukan tipe manusia yang hobi menulis. Ditambah, minggu-minggu ini saya
disibukkan oleh paper beserta presentasinya yang harus diselesaikan, paling akhir,
1 Maret 2014. Ya, tepat hari ini. syukurlah, semua itu bisa saya lewati dengan
baik. Alhamdulillah Robbil’alamin.
Syaikh Ali Thontowi, dalam sebuah buku yang pernah dia
tulis, saya menemukan satu motivasi yang mendorong saya untuk menulis. Saya lupa
terjemahan secara harfiahnya, yang saya ingat “hendaklah kamu, ketika malam,
menulis apa saja yang tengah kamu rasakan seharian ketika hari itu. Bukan,
bukan menceritakan bagaimana kamu bangun pagi, lalu mandi sambil gosok gigi
kemudian pergi bekerja lalu ketika malam kembali. Bukan! Tapi, ceritakanlah
peristiwa yang sangat berkesan dalam hatimu”. Ya, sebuah motivasi agar kita
berlatih dan belajar untuk terus menulis. Seperti motivasi-motivasi lainnya “kalau
kamu ingin sejarah menulismu, maka menulislah!
tentang sesuatu yang berkesan. Beberapa saat yang lalu,
entah apa yang mengilhami saya, sehingga saya katakan kepada kawan “di balik
setiap kebahagiaan seseorang pasti ada orang lain yang tengah kecewa”. Kalimat ini,
terinspirasi dari kisah seorang kawan yang, walaupun mati-matian dia berjuang
untuk mendapatkan pujaan hatinya, tetap saja ditinggalkan dan kecewa karena
sang pujaan bersanding dengan yang lain. Kawan yang berusaha mati-matian,
mungkin gga sampai mati-matian kali. Cuma segala usaha yang mampu dia
lakukan, dia lakukan. Seperti: memberi perhatian khusus dan… apalagi ya,
sepertinya Cuma itu yang mampu dia lakukan. Oh ya, ada satu senjata paling
pamungkas, berdoa siang dan malam.
Mungkin ini yang banyak orang bilang, barangkali bukan
jodoh. Betul memang, dia bukan jodohnya. Tapi, rasa sakit atau kecewa pasti
ada. Sang pujaan hati bahagia menjalin tali kasih dengan yang lain, dan dia
kecewa dan sakit karena patah hati. Wah, fenomena kisah para pemuda menjelang
menikah memang penuh gairah, selalu asyik untuk disimak.
Belum, ada lagi kisah lain. Ini jaman internet, jarak jauh
terasa dekat. Orang yang berada di ujung barat gurun sahara bisa berbincang
langsung dengan orang yang tengah di padang rumput ujung Papua. Saya Cuma ingin
bercerita supaya kita bisa mengambil hikmah. Dua manusia yang saling dekat
melalui Medsos, Media sosial. Mungkin, awalnya hanya gombalan-gombalan ringan,
namun selanjutnya saling mengena di hati. Dari gombalan berubah pada
janji-janji. Lalu keduanya saling membuka hati untuk berlanjut kepada hubungan
yang lebih serius. Tak ada salahnya memang, menjalin hubungan yang berawal dari
media sosial. Yang saya herankan, bagaimana bisa seseorang bisa mengatakan
cinta kepada seseorang yang belum pernah dia temui secara nyata. Seharusnya,
agar tidak ada satu diantara keduanya kecewa atau bahkan keduanya, sebelum
gombalan atau janji-janji baiknya mereka saling kenal dulu dalam dunia nyata. Ah,
ini teori saya saja, tidak harus kamu praktikan. Tapi, teori ini lebih etis.
Kembali ke “di balik setiap kebahagiaan seseorang pasti ada
orang lain yang tengah kecewa”. Setiap apa yang kita harapkan, lalu kita tak
mendapatkannya, pasti muncullah rasa kecewa, apalagi yang diharapkan menyangkut
pendamping hidup yang bakal menemani sampai mati bahkan sampai hidup lagi. Kecewa
boleh, namun kadar kekecewaan, tetap kita yang harus mengontrol supaya tidak
terjatuh kepada hal-hal yang membahayakan. Seperti yang diajarkan baginda Nabi
Muhammad saw, ketika beliau mendapatkan apa yang dia shollallah ‘alaih wasallam
inginkan, dia ucapkan “Alhamdulillah robbil’alamin”. Dan ketika dia tidak
mendapati apa yang dia harapkan dia ucapkan “Alhamdulillah ala kull hal”. Semuanya
agar kita bisa ridlo dengan apa yang Allah taqdirkan. Dan ketika kita ridla
dengan taqdirNya, tidak lain adalah agar kita mendapat ridlo dariNya. Tidak ada
yang lebih indah dari mendapatkan ridloNya. Wallahu a’lam

BalasHapusSubhanallah... sungguh sangat mengharukan, mungkin memang benar tidaklah etis jika sebelom nya belom pernah bertatap muka alias cuma kenal di medsos, tapi mungkin dengan begitu malah bisa saling menjaga di sisi zina mata dll... hehe, bisa juga di katakan karna saling jauh maka sampai mana tingkat kejujuran, kesetia'an dan sampai mana dy bisa bertahan tuk menjaga hati nya hanya untuk satu hati yakni pasangannya..., di sisi laen Antum benar, memang seharusnya walau sekali, sebelom melontarkan kata2 janji, tuk ke jenjang2 selanjutnya... maka lebih baek nya saling bertemu seenggaknya pernah bertatap muka secara langsunglah itu saya kira lebih baek,,,, mungkin begitu .... ^_^ Lily Svee@ny
Makasih atas segala masukannya.. mungkin bisa slamet dari zina mata, tapi belum tentu bisa slamet hatinya.. cuma, kadang, belum bisa slamet dari zina mata juga.. karena masih ada foto, webcame dll.. yaa walaupun cuma sekedar foto.. mungkin terdengar agak berlebihan.. wallahu a'lam
BalasHapusgambarnya kurang syar'i euy..wkwkwkkw....jika cemburu..galau...dll...katakanmafi qalbi ghairullaah..hahahaha..mantap
BalasHapusmakasih masukannya.. betul,, maa fii qolbi ghoirullah emang harus selalu ditumbuhkan..
BalasHapuskalo gambar, maaf, ane belum sampe ke pelajaran tentang gambar yang syar'ii.. ;)
Subhanallah..smoga kadar kecintaan kita kepda makhluk tdk menglhkan kecintaan kepda sang kholiq, emng sdh mnjdi kodrat manusia berhrp kepda sesamanya tpi belum lah tntu harapan itu sesuai yg di hrpkan. Ya , kita punya konsep,memilih dn berusaha mncari sesuatu yg terbaik boleh2 sja tpi terkdng rahasia ilahi berbeda..hee
BalasHapusJodoh sudah di atur :) tidk sedikit perkenalan lewat medsos smpai ke pelaminan dan tidak sedikit pula yg sdh lama kenalan smpai bertahun2 tinggl kenangan..
Kita ikutin zha stdz jalan mainNya..hehe
Kayaknya teori kita hampir sama stdz
"Di balik setiap kebahagian seseorang pasti ada selipan doa orang lain"..
Syukron nasehatnya stdz mukhlas...
Smoga mndpatkan bidadari pilihan ? Amin :)
Abl kull syei' makasih atas komentarnya Syabab Syam..
HapusApapun wasilah/perantara untuk menuju ghoyah (menemukan seseorang yg dengannya sempurnalah separuh agama) yang penting sesuai syariat dan ridlo Allah 'azz wa jall