Persiapan Diri, Mengenal Apa Itu Pernikahan



Bagi siapa pun, laki-laki atau perempuan, yang ingin menuju ke dunia pernikahan hendaknya dia mempersiapkan diri secara materi ataupun mental dan juga pengetahuan tentang apa itu pernikahan. Seperti kaidah umum dalam hal apapun, siapa yang mempersiapkan diri dalam suatu perkara, maka dia akan sukses melewati atau menghadapi perkara tersebut.

Ada beberapa poin sebagai pengenalan atau pengetahuan untuk persiapan diri menuju pernikahan. Diantaranya:

1. Pernikahan adalah tanggung jawab

Apabila ditanyakan apa itu pernikahan, maka kata yang paling singkat untuk menjawabnya adalah tanggung jawab. Karena ketika menikah ada beban baru yang harus diletakkan di bahu tiap pasangan dari sepasang kekasih tersebut. Membangun rumah tangga baru atau keluarga baru membutuhkan usaha yang besar.

Tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang baru menjadi suami istri tersurat atau tersirat dari firman Allah swt:

(( الرجال قوّامون على النساء بما فضّل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم فالصالحات قانتات حافظات للغيب بما حفظ الله..)) 
[النساء : 34]

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang sholeh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..."

Dari ayat diatas, maka tanggung jawab seorang laki-laki adalah dalam kata qowamah: pemimpin/pengatur, pengasuh dan memberi nafkah.

Dan tanggung jawab seorang wanita/istri adalah mentaati suami, menjaga rumah ketika ada dan tiadanya suaminya.

Dan tanggung jawab bersama adalah: mengasuh anak dan mendidik mereka dengan pendidikan yang benar, dan saling menjaga satu sama lain (antara suami dan istri) dan berusaha dan bekerja untuk saling meridloi dan saling membahagiakan.

Tanggung jawab suami dan istri dalam keluarga itu berbeda antara satu dan yang lainnya. Berbeda tapi saling melengkapi. Bukan sama. suatu kedzoliman jika menyamakan dua hal yang berbeda. Pun juga suatu kedzoliman ketika membeda-bedakan antara dua yang sama.

Sudah suatu hal yang lazim, melaksanakan tanggung jawab itu membutuhkan latihan. Beban-beban tanggung jawab itu pun, di tahun-tahun pertama pernikahan, kadang bertambah, berkurang, sedang-sedang saja, dan kadang terasa ringan bersama berjalannya hari.

Karena melaksanakan tanggung jawab itu butuh latihan, maka disinilah diperlukan peran kedua orang tua untuk melatih putra-putrinya. Latihan melaksanakan tanggung jawab itu bisa dilaksanakan melalui:
- Menuangkan cinta & kasih sayang kepada mereka supaya mereka pun mencintai diri sendiri dan mencintai orang lain. Siapa yang pernah merasakan cinta & kasih sayang maka dia pun akan menyalurkannya kepada yang lain. Dan siapa yang telah mencintai seseorang maka dia akan berusaha bertanggung jawab atasnya.

- Percaya kepada mereka. Mengajarkan kepercayaan diri agar mereka mampu melaksanakan tugas dan mengemban tanggung jawab.

- Mendidik mereka dengan memberikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan umur mereka. Dan memantau mereka saat melaksanakan tugas yang diberikan. 

2. Pernikahan adalah pengorbanan

Pengertian yang kedua, pernikahan adalah pengorbanan. Tak akan terus berlanjut sebuah pernikahan tanpa pengorbanan. Kadang suami yang harus berkorban, dan di waktu lain istri yang harus berkorban atau bahkan kedua-duanya yang harus berkorban.

Lihatlah berapa banyak wanita yang lulus dari fakultas kedokteran (misalnya), telah bekerja di rumah sakit dan mendapat gaji bulanan yang tinggi. Namun wanita tersebut rela meninggalkan ijazah dan pekerjaannya untuk menjaga rumah dan anak-anaknya. Dia rela mengosongkan waktu untuk mendidik anak-anaknya untuk menjadi manusia hebat.

Dan berapa banyak suami yang lebih mendahulukan istri dan anak-anaknya dengan harta yang ia dapat agar mereka bahagia walaupun ia lelah, agar mereka naik meninggi merasakan sejuknya angin langit walaupun itu dengan cara naik di atas pundaknya.

"Ummu Hani, saudari dari sayyidina Ali ra, telah wafat suaminya dan meninggalkan anak-anak yang menjadi yatim. Maka Rasulullah saw mengkhitbahnya untuk dinikahi. Namun, Ummu Hani berudzur, meminta maaf, menolak permintaan Rasulullah saw. Dia menolak karena jika dia, walaupun mampu memenuhi hak suaminya dia takut tidak bisa memenuhi hak-hak anaknya. Ataupun, walau dia mampu memenuhi hak-hak anaknya ia takut tak bisa memenuhi hak-hak suaminya.
Dia (Ummu Hani) berkorban demi keluarga/anak-anaknya dan merelakan gelar yang sangat mulia (red. Ummul Mu'minin) yang akan disematkan padanya jika dia menikahi Rasulullah saw."

satu kisah lain, Jabir bin Abdullah rela berkorban menikahi wanita janda ketimbang menikahi gadis yang masih perawan. Padahal pemuda-pemuda lain lebih memilih gadis yang masih perawan. Dia lakukan itu demi selamatnya keluarga bapak dan ibunya, agar wanita janda yang ia nikahi bisa mengasuh saudara-saudari dia yang masih kecil. Karena wanita janda lebih dewasa dan punya pengalaman lebih dalam mengurus anak.

3. Pernikahan adalah siap menerima perbedaan

Perbedaan adalah sunatullah di muka bumi ini. Hidup ini takan berjalan tanpa adanya perbedaan. Allah swt berfirman:

(( ولو شاء ربّك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين* إلا من رحم ربك ولذالك خلقهم..))
[هود : 118]

"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.."

Suatu hal yang alami, ketika sepasang suami istri berselisih atau berbeda pendapat. Bagaimana tidak, suami adalah laki-laki dan istri adalah perempuan. Dan laki-laki bukan/tidak sama dengan perempuan.

Bagaimana tidak berbeda, sang suami dahulunya hidup dalam sebuah keluarga dan sang istri hidup dalam lingkungan keluarga yang lain. Adatnya berbeda, cara pikirnya berbeda, hubungan sosialnya berbeda dan lain sebagainya.

Kaidahnya, Siapa yang ingin menjadikan seseorang pasangan hidup, suami/istri, berarti dia telah siap untuk menerima seseorang hidup bersamanya yang berbeda dengannya.

Dari sini, diharapkan setiap satu dari pasangan suami/istri untuk siap menerima perbedaan. Walaupun begitu, dengan perbedaan, jika disikapi dengan baik, itu akan menjadikan hidup lebih bervariasi dan lebih berwarna.

Dan perlu diingat, dengan berjalannya hari, menjalani hidup bersama akan mendekatkan perbedaan tersebut. tahun berganti tahun, perbedaan itu akan menipis dan berkurang. Sepasang suami/istri tadi akan semakin saling memahami.

4. Pernikahan adalah ketenangan/ketenteraman (sakinah)

Sama halnya, setiap pemuda/pemudi yang hendak menikah perlu tahu bahwa pernikahan adalah; tanggung jawab, pengorbanan dan siap menerima perbedaan, mereka pun harus tahu bahwa pernikahan adalah ketenangan. Seperti rasa sejuk setelah kehausan. Allah swt berfirman:

((ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودّة ورحمة إنّ فى ذالك لآيات لقوم يتفكرون ))
[الروم : 21]

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."


((خلقكم من نفس واحدة وجعل منها زوجها ليسكن إليها...))
[الأعراف : 189]

"Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa tenang/tenteram kepadanya..."

Ketika pernikahan adalah suatu ketaatan kepada Allah swt. maka imbalan pertamanya adalah ketenteraman. ya, karena setiap satu ketaatan adalah satu cahaya yang bersinar di wajah dan satu ketenangan di hati dan semangat di dalam raga dan satu cinta di hati hamba-hambaNya.

Suatu kedzaliman atau kesalahan ketika masyarakat tidak mengajari pemuda/pemudinya dalam pernikahan tentang persiapan diri, tentang empat hal ini.

Lebih parahnya, malah sebaliknya, bukan diajari dengan pengertian yang benar malah diajari dengan hal-hal yang negatif. Sehingga dalam diri mereka arti pernikahan berubah menjadi pesta-pesta meriah, atau hanya hubungan cinta semata. Dan tidak sedikit pemudi kita berkhayal bahwa bakal suaminya adalah pangeran berkuda impiannya yang akan datang dari alam lain yang membawa semua impian-impiannya dalam hidup. Dan banyak para pemuda yang membayangkan bahwa bakal istrinya adalah putri salju yang tengah tertidur yang menunggu satu ciuman darinya yang akan membuat dia sadar, terbangun dari tidur panjangnya.

Dan.. ketika para pemuda/pemudi, telinga-telinga dan hati mereka dipenuhi oleh kisah-kisah cinta yang menggiurkan, yang tak punya asal dan tak bertanggung jawab, maka mereka pun, secara alamiah, akan menuju ke dunia pernikahan tanpa persiapan, tak mengerti pengorbanan, tak siap menerima perbedaan dan tak siap mengemban tanggung jawab.


wallahu a'lam 

Komentar

  1. Yang terpenting praktek syaikh... Semakin banyak di timbang2 semakin banyak yang belum siap diri ini, selama kedua pihak sepakat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri maka indah dirasa.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii ustadzii.. praktek itu emang penting.. tapi ya, butuh teori atau pengetahuan sebelum praktek biar gga trial and error..
      kecuali macam antum lah.. whehehe.. udah praktek langsung..

      Hapus
  2. Manntap mukh.... yang ini lebbih bagus dari yanng kemarin..semangat terus belajar da mmenngabadikannnya lewat tulisann... praktek pernikahan harus pakai ilmu.... itu bbetul sekali.. jangan asal menikah kalau bblum tau ilmu yg mukh tulis tadi. Semoga berkah ya mukh...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahla min almusalsal atturkiyah

Tentang Cinta & Kadar Kecewa

Hawa Panas Seharusnya Diberi Angin Kesejukan