Catatan Harian, Peristiwa aneh



Para pedagang kaki lima memenuhi pinggiran jalan membuat orang yang berlalu lalang meluber ke tengah jalan. Angin masih berhembus dingin, walaupun matahari menyengat membuat hangat. kamu akan menggigil kalau hanya mengenakan satu lembar pakaian. Sebelah kiri jalan Nampak sebuah kubah dengan beberapa menara, bukan masjid, Takiyah sulaimaniyah orang sini menyebutnya. Bangunan peninggalan masa khilafah utsmaniyah, khilafah islamiyah yang runtuh sekitar tahun 1900an.

Saya melompat kedalam bus hitam jurusan Midan-Muhyidin, kemudian menyodorkan uang 100 lira, mata uang Syria, sebagai ongkos. “mafi frotoh, ggada recehan?!” Tanya supir bus dengan raut muka yang tampak kesal. Ongkos bus memang Cuma 20 lira. Entah apa yang membuatnya kesal, saya pun turut menjadi kesal karenanya. Energi negatif memang selalu memancarkan efeknya ke sekitar. “tukar saja uangnya dengan pedagang pinggir jalan” suruhnya. Bus masih berjalan, dan saya tak mau turun hanya untuk tukar uang. “Allahumma sholli ala sayyidinaa Muhammad” sambil menarik nafas dalam-dalam saya bersholawat dengan harapan saya tak semakin kesal. Sambil menarik kedua ujung bibir, senyum lebar, saya bertanya kepada penumpang lain apakah ada yang punya uang recehan. Syukurlah ada seorang ibu dengan senyum mau menukarkan uang recehnya. “hadz itsnain ustadz, ini ongkos untuk dua orang, ustadz” kataku dengan senyum semanis mungkin kepada supir yang dari tadi cemberut. Akhirnya, bad mood yang timbul dari muka supir bus yang cemberut bisa kutangkal dengan senyuman. Energi positif selalu menang dari energi negatif

sorenya, saya berjalan menuju pasar bersama dua orang kawan. Pribumi kota ini, Damaskus, memang terkenal ramah apalagi kepada pelajar syari’ah. “wasiat Rasul” kata mereka. Kejadian yang sangat aneh. Ditengah jalan seseorang menghampiri kami, mengucapkan salam, dengan ramah dia memeluk kami satu persatu sambil menanyakan kabar. Orangnya rapih, tampak seperti orang sholeh, memakai kopiah, tutur katanya lembut dan sopan. Bukan itu yang aneh. Yang bikin aneh, saat setelah selesai basa-basi menanyakan kabar, dia berucap sedikit berbisik “saya kasih tahu sebuah rahasia, tapi cukup kalian bertiga yang tahu,” ucapnya dengan raut muka yang dikerutkan “ana hafidurrasul, ridlwan, imam Mahdi almuntadzor”, saya adalah Ridlwan, cucu keturunan Rasul dan saya adalah imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dalam hati saya terkejut, namun saya tak mau menampakkannya. Untuk semakin meyakinkan kami, dia mengajak kami untuk pergi ke alquds membebaskan al-alqsho. Kami hanya diam. Hingga akhirnya dia pergi setelah mengucapkan salam dan saling mendoakan. Peristiwa aneh yang buat geleng-geleng kepala. Saya setengah ragu kepada kawan sebelah “eh, beneran tuh orang apa yang dia omongin?!” kawan saya mengangkat bahu alamat tidak tahu. “gimana hukumnya nih?” kataku. “ah, ggada di rukun iman dan rukun islam, jadi gga musyrik kan kalau gga percaya!” jawabku sendiri setengah bertanya. “lagian juga ga da dalilnya yang nunjukin dia Imam Mahdi” tambahku meyakinkan diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahla min almusalsal atturkiyah

Tentang Cinta & Kadar Kecewa

Hawa Panas Seharusnya Diberi Angin Kesejukan