Ahla min almusalsal atturkiyah



Suasana kelas begitu tenang, semua fokus pada rangkaian kata yang diucapkan oleh dosen yang memberikan materi saat itu. Saya duduk di barisan depan bersama mahasiswa yang lainnya. Barisan kedua dan seterusnya dipenuhi oleh mahasiswi tingkat empat, satu tingkat dengan kami. Ya, memang 
kelas kami lebih didominasi oleh perempuan. laki-lakinya pun banyak, cuma yang hadir sedikit. Bukan tentang kehadiran yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menyampaikan apa yang dosen itu sampaikan.

“ketahuilah, sesungguhnya kisah kita lebih indah daripada sinetron Turki” dosen itu memulai cerita. Saya tersenyum kecil, tersindir dengan kata-katanya. Maklum saja, saya senang duduk berlama-lama hanya untuk menyaksikan sinetron Turki. “Lihatlah sejarah kita” lanjutnya. Dia bercerita tentang seorang putri dari raja Nasrani yang dinikahi oleh seorang raja muslim dari Aleppo, kota di bagian utara Syria. Ini kisah nyata, bukan dongeng belaka. Putri tersebut tinggal bersama raja muslim Aleppo di kerajaannya.

Suatu hari, sang ayah mendatangi raja muslim. Dia mengira bahwa putrinya berada di bawah raja muslim sebagai tawanan atau budak. Sehingga ayah tersebut ingin membebaskan putrinya.

“ambillah harta ini dan bebaskanlah putriku” sang ayah menawarkan diri.
“jika kamu mau membawa putrimu, bawalah dia dan ambil hartamu” kata raja Aleppo.

Namun, ketika sang ayah menemui putrinya, dan mengajaknya pulang ke negeri asalnya, sang putri menolak. Sang ayah terheran-heran, bukankah dia telah diperlakukan dengan tidak layak. Sang putri membantah, bahkan dia memuji raja muslim sebagai orang yang ramah, berakhlaq santun dan lembut. Dan ternyata sang putri telah memeluk islam.

Raja Nasrani tak putus asa. Dia membuat siasat untuk membawa putrinya pulang. Terlaksanalah siasatnya, putrinya bisa dibawa pulang. Sang ayah mengajak putrinya untuk kembali ke agama lamanya. Namun, putri tersebut menolak. Dia tetap pada ketauhidannya. Sekali dua kali ajakan, tak juga putri tersebut mau kembali ke agama ayahnya. Ayahnya berang, dimasukkanlah putrinya kedalam penjara. Putri tersebut berada dalam penjara bersama anak yang dikandungnya, anak dari raja muslim. Penjara tak mampu menggoyahkan keimanan sang putri, sampai akhirnya ia melahirkan anaknya di penjara hingga Allah swt memanggilnya.

Cerita tak berhenti disini. Masih terus bersambung. Anak dari putri tersebut diasuh oleh kakeknya, raja Nasrani. Sang kakek mendidik cucunya dengan menanamkan kebencian dalam jiwa cucu tersebut kepada raja muslim Aleppo. Kakeknya membuat kebohongan, bahwa raja Aleppo lah yang telah membunuh ibunya. Tumbuhlah sang cucu menjadi dewasa dengan kobaran amarah untuk membalaskan dendam ibunya. Hingga terjadilah pertemuan dua kubu, tentara Nasrani dan tentara Muslim di sebuah peperangan yang sudah lama belum selesai. Perang salib. Kubu Nasrani yang dipimpin oleh anak yang lagi tangguh-tangguhnya bersama kakeknya, raja Nasrani. Sedangkan kubu Muslim dipimpin oleh raja Aleppo yang semakin menua. Seperti kebiasaan yang terjadi pada perang-perang saat itu, sebelum dua kubu saling bertempur, majulah jagoan dari masing-masing kubu untuk bertarung one by one, mubarozah. Dari kubu nasrani, majulah anak muda yang memendam amarah dendam. Sedangkan dari pihak muslim, majulah raja yang semakin menua tersebut. Bertarung mereka berdua diantara dua kubu tersebut. raja Aleppo menang, anak muda tersebut kalah. Saat raja Aleppo hendak membunuh anak muda tersebut dia melihat kalung kepunyaan istrinya. Sehingga ia pun iba, tak jadi membunuh anak muda tersebut. anak muda menjadi tawanan dan dijebloskan kedalam penjara. Pasukan Nasrani dipukul mundur. Kalah.

Raja Aleppo mencari kabar tentang istri dan anaknya. Hasil pencarian menunjukkan bahwa anak muda tersebut adalah anak kandungnya.
 Selama dipenjara, anak muda tadi banyak mendapat pelajaran. Muslim dan raja Aleppo yang ia temui tidak seperti apa yang kakeknya ceritakan selama ini. Dan akhirnya anak muda tersebut mengetahui bahwa raja Aleppo adalah bapak kandungnya. Dibebaskanlah dia dari penjara dan memeluk islam. dan dia habiskan sisa hidupnya bersama pasukan islam bersama ayah kandungnya. Hingga tiba pertempuran antara tentara muslim dan pasukan salib. Namun, keadaan yang berganti. Dulu ia bersama kakeknya melawan bapaknya. Sekarang ia bersama bapaknya melawan kakeknya. Lalu ia mati syahid dan namanya diabadikan menjadi sebuah jalan di kota Damaskus. St. Arnus.
“hekz, tarikhunaa ahla min musalsal atturkiyah”. Inilah, sejarah kita lebih indah daripada sinetron Turki.


Komentar

  1. Sumber ilmunya sama tapi beruntung bagi yang bisa menyampaikan, lengket plus manfaatnya lebih meluas. Ditunggu tulisan lainnya bro.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Cinta & Kadar Kecewa

Hawa Panas Seharusnya Diberi Angin Kesejukan